Tampilkan postingan dengan label sebelum pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebelum pernikahan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juni 2012



Menikah merupakan suatu siklus dalam kehidupan manusia yang umumnya akan dilalui. Namun, untuk melalui fase ini kita tidak dapat sekadar mengandalkan naluri. Kita juga butuh ilmu. Konsultan Indra Noveldy mengungkapkan, ilmu pengetahuan saat menikah dibutuhkan untuk membantu menciptakan kebahagiaan dan mempertahankan rumah tangga.

"Tetapi ilmu pengetahuan ini bukan seperti ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah. Pengetahuan yang dibutuhkan adalah pengetahuan tentang pasangan," beber Indra, dalam seminar pernikahan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Ilmu pengetahuan yang harus dimiliki saat akan menikah berupa pengenalan tentang diri pasangan secara mendalam. Menurut Indra, pengetahuan yang mendalam ini akan membantu mengetahui tingkat kedewasaan pasangan dan pola pikirnya.

Beberapa pengetahuan mengenai diri pasangan yang harus Anda ketahui sebelum Anda menikah antara lain:

1. Kondisi keluarga
Mencari tahu tentang latar belakang keluarga calon pasangan mungkin bukan hal yang baru. Namun, yang perlu Anda ketahui bukan sekadar status kekayaan, atau latar belakang keluarganya saja, tetapi juga pada kepribadiannya. Misalnya, kehidupan masa kecil si dia.

"Cari tahu apakah dia pernah mengalami bullying sewaktu kecil, diasingkan oleh keluarganya, atau punya orangtua yang sering bertengkar," sarannya. Meski terlihat sepele, namun jika hal ini sudah lama terjadi, menurut Indra akan memengaruhi pola pikir dan programming di otaknya mengenai kehidupan pernikahan.

2. Nilai-nilai pribadi
Hal ini merupakan syarat utama saat Anda memutuskan untuk menikahi seseorang. Kenali dirinya melalui jenis pekerjaan yang digelutinya, kehidupan kariernya, keuangannya, dan sisi spiritualitasnya.

"Mengenali kariernya dengan tepat, dan bukan hanya berdasarkan hal-hal yang terlihat, akan membantu Anda mengetahui sifatnya seperti workaholic atau tidak. Ini akan membantu Anda mengetahui cara mengantisipasinya," jelas Indra.

Selain itu, sisi spiritualitas juga harus diketahui, karena pria akan menjadi kepala keluarga yang diharapkan mampu membimbing kehidupan kerohanian anggota keluarganya.

3. Prinsip hidup
Setiap orang pasti punya prinsip hidup masing-masing. Namun, banyak pasangan yang tidak mengetahui prinsip hidup pasangannya, dan cenderung menyepelekan karena dianggap tidak penting. Tak ada salahnya untuk bertanya pada pasangan tentang prinsip hidupnya agar tak kaget setelah menikah. Prinsip dasar ini antara lain menyangkut tentang kehidupan setelah menikah, misalnya apakah Anda masih boleh bekerja, dan lain-lain.

"Biasanya mereka mulai sadar punya prinsip hidup yang berbeda setelah menikah, dan hal ini akan menimbulkan konflik yang cukup serius di antara mereka," tukas Indra. Perbedaan prinsip sampai saat ini masih menjadi masalah utama yang menyebabkan banyak pasangan akhirnya bercerai.

4. Kebutuhan emosional dan pribadi
Salah satu kebutuhan emosi dan pribadi setiap orang adalah untuk dimengerti dan dicintai oleh pasangannya. Hanya saja dalam kehidupan pernikahan, antara dimengerti dan mengerti harus berjalan seimbang. Selain itu, jangan lupa mengetahui apa kebutuhan pribadi pasangan Anda, terutama kebutuhannya ketika menikah.

"Mengetahui apa yang menjadi kebutuhan pasangan akan membuat pernikahan berjalan lebih lancar dan juga lebih bahagia, karena kita saling tahu kebutuhan pasangan," pungkas Indra.

sumber : kompas.com

Latar Belakang Si Dia yang Harus Anda Ketahui

Kamis, 24 Mei 2012

Saat menikah tak hanya butuh bekal cinta saja.


Kehidupan pernikahan seperti ketika kita akan pergi berpiknik, dan membutuhkan bekal yang tepat, demikian konsultan pernikahan Indra Noveldy mengibaratkan. Kesalahan membawa bekal akan berakibat pada terjadinya berbagai hal yang menyulitkan dalam kehidupan pernikahan.

"Sayangnya sampai sekarang masih banyak orang yang mempersiapkan bekal pernikahan hanya seperti orang yang akan pergi ke mal, padahal kehidupan pernikahan itu seperti piknik ke puncak gunung," tukas Indra dalam seminar pernikahan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bekal yang disiapkan untuk pergi ke mal dan ke puncak gunung pasti sangat berbeda. Ketika orang memasuki kehidupan pernikahan dengan hanya menyiapkan sebuah "tas kecil" seperti akan jalan-jalan di mal, ada banyak kebutuhan lain yang tidak akan terpenuhi dalam perjalanannya. "Hal ini juga berarti bahwa ketika menikah, modal cinta saja tidak cukup," ujarnya.

Menurut Indra, ada beberapa bekal yang harus dipersiapkan calon pengantin sebelum memasuki jenjang pernikahan, antara lain:

1. Pola pikir pasangan
Sebelum menikah sebaiknya kenali dulu pola pikir pasangan Anda. Pola pikir atau mindset dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, keluarga, serta nilai-nilai yang ada di masyarakat. Kenali lingkungan tempat pasangan tumbuh, dan pahami cara berpikirnya. Dengan demikian Anda sudah punya persiapan untuk memahami caranya mengatasi masalah, sekaligus mengetahui tingkat kedewasaannya agar tak kaget dengan cara berpikirnya yang mungkin tak sejalan dengan pola pikir Anda.

2. Programming
Setiap keluarga pasti memiliki pandangan sendiri tentang konsep menikah. "Kenali dulu konsep pernikahan apa yang ditanamkan oleh keluarganya," sarannya. Proses programming tentang konsep pernikahan dari keluarga ini bisa jadi sudah mendarah daging, karena sudah berjalan seumur hidupnya. Tidak heran, ketika ada konsep yang berbeda antar pasangan akan timbul konflik bersifat prinsip yang sulit diubah.

Salah satu contoh konsep programming tentang pernikahan adalah, setiap orang memutuskan menikah karena mereka akan dibahagiakan oleh pasangannya. "Konsep ini tidak sepenuhnya salah. Setiap orang berhak untuk bahagia, tapi kebahagiaan akan tercapai jika kedua pasangan siap untuk saling memberi dan menerima, tidak hanya menuntut untuk dibahagiakan," jelasnya.

Mengenali konsep programming pernikahan pasangan Anda akan memudahkan Anda untuk mengambil langkah-langkah dalam mengantisipasi dan meminimalisasi konflik yang terjadi setelah menikah.

3. Tingkat kedewasaan
Menikah sebenarnya bukan masalah target usia, akan tetapi lebih mengacu kepada tingkat kedewasaan seseorang. Dan usia bukanlah jaminan untuk menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang. "Saat menikah perempuan pasti ingin punya pasangan yang dewasa. Tapi sayangnya, tidak semua pria yang saat menikah (dalam kondisi) sudah dewasa," beber Indra.

Kedewasaan pria tergantung pada tingkat "pendidikan" dari keluarga dan kehidupan sosialnya. Kedewasaan ini sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai masalah yang kemungkinan akan dihadapi dalam hidup berumah tangga. Seseorang yang dewasa bisa terlihat dari caranya memecahkan masalah yang dihadapi, serta dari tingkah laku dan pola pikirnya.

4. Kesamaan tujuan menikah
Setiap orang punya tujuan yang berbeda saat menikah. Tujuan yang berbeda ini akan menyebabkan cara yang berbeda saat menjalani pernikahan. Misalnya, Anda menikah hanya demi status sebagai istri dan ibu, sementara bagi dia pernikahan menjadi caranya untuk keluar dari kungkungan keluarganya. Anda ingin segera terikat dengan satu orang dan membentuk keluarga sendiri, sementara dia justru ingin bebas. Nggak nyambung, kan?

"Ketahui dulu apa tujuan pasangan Anda untuk menikah. Agar pernikahan lebih bahagia, sebaiknya antarpasangan punya satu tujuan dan satu cara untuk menjalankan pernikahan bersama-sama," pungkasnya.


Sumber : kompas.com

Bekal Sebelum Anda Menikah